![]() |
| Photo : Pesantren Modern Al Manar Aceh Besar |
Kalau kamu pernah berkunjung ke pesantren, khususnya pesantren yang menganut sistem modern kamu tidak jarang menemukan tulisan-tulisan seperti motivasi dalam belajar, kata-kata hikmah, Ayat Al Qur’an dalam berbentuk kaligrafi dan tulisan lainnya. Nah, salah satu dari hal tersebut kamu juga akan menemukan tulisan panca jiwa pesantren.
Apa itu Panca Jiwa ?
inilah pola
kehidupan di pesantren yang harus diwujudkan dalam proses pendidikan dan
pembinaan karakter santri. Panca jiwa ini hendaknya harus di pahami oleh
seluruh santri. Kalau 5 panca jiwa ini sudah tertanam pada setiap jiwa santri,
insyallah santri tersebut akan belajar sungguh-sungguh di pesantren. Pola
kehidupan ini bukan hanya harus dimiliki oleh santri, begitu juga dengan dewan
guru, Ustadz dan pengurus pesantren. Pesantren tersebut akan selalu bertahan
kalau 5 pola kehidupan pesantren selalu mereka junjung tinggi. Apa saja pola kehidupan pesantren tersebut ?
berikut penjelasannya.
1.
Jiwa Keikhlasan
Kamu pernah mendengar “ Al
ikhlashu ruhul ‘Amali? Ikhlas itu ruhnya sebuah pekerjaan. Kedudukan keikhlasan
sangat penting dalam sebuah pekerjaan, termasuk belajar. Keikhlasan seseorang
akan terlihat pada hasil yang ia kerjakan. Jiwa keikhlasan ini tergambar dalam
pekerjaan sehari-hari santri maupun dewan guru, berbuat sesuatu sebagai ibadah
tanpa mengharapkan sebuah keuntungan tertentu.
Jiwa ini wajib dimiliki oleh
setiap orang yang tinggal di pesantren. Jiwa inilah yang akan menciptakan
keharmonisan antara santri, dewan guru, dan pimpinan pesantren. Menerima
sesuatu atau menaati sesuatu di dorong oleh jiwa yang penuh cinta dan rasa
hormat. Maka tak heran bagi santri yang memiliki jiwa tersebut, maka setiap
kegiatannya di pesantren yang ia jalani, belajar dan sebagainya hanya sebagai
ibadah semata.
2.
Jiwa Kesederhanaan
Ingat ! sederhana bukan berarti
miskin kawan. Kadang orang sering menyalahgunakan makna kesederhanaan. Kesederhanaan
itu merupakan kekuatan hati, katabahan, dan pengendalian diri dalam menghadapi
berbagai macam persoalan hidup. Dengan jiwa kesederhanaan ini maka akan lahir
jiwa yang besar, berani, bergerak maju, dan pantang mundur dalam segala
keadaan. Maka tak heran di pesantren kalau ada santri dari keluarga yang
tergolong kaya, tapi penampilan sehari-harinya sangat sederhana, bahkan ia terlihat
lebih dari pada orang miskin. Kenapa itu bisa terjadi? Karena jiwa
kesederhanaan ini yang sudah tertancap di dalam hati.
Dengan jiwa kesederhanaan inilah
berawal tumbuhnya kekuatan mental dan karakter yang menjadi jalan suksesnya
suatu perjuangan dalam segala lini kehidupan.
3.
Jiwa Kemandirian
Mandiri sering disebut dengan
mandi sendiri. Haha
Selain mandiri, jiwa ini juga
disebut dengan Berdikari, yang biasanya dijadikan akronim dari “ Berdiri di
atas kaki sendiri” . seorang santri harus menjadikan sifat mandiri ini sebagai
prinsip agar hidup ini tidak selalu bergantungan pada orang lain.
Dengan jiwa mandiri ini akan
menghilangkan sifat manja yang ada pada diri santri tersebut sebelumnya. Karena
dalam kesehariannya dia akan bertarung dengan sendirinya menghadapi berbagai
kegiatan di pesantren. Maka bagi orang tua yang anaknya di pesantren, jangan
pernah memanjakan anak bapak ibu selama di pesantren. Biarkan dia mengerjakan
sesuatu itu dengan segenap kemampuannya. Karena kelak suatu saat nanti, dia akan hidup tanpa adanya orang tua dan
tidak akan selalu bergantungan pada orang lain.
Jiwa mandiri ini juga tergambar
pada diri seorang pimpinan pesantren, Kyai dalam membangun pesantren. Cukup
dengan dukungan santri dan masyarakat umum pesantren itu akan selalu eksis yang
dibarengi dengan jiwa keikhlasan tadi. Jiwa kemandirian ini seperti pondasi
utama dalam merintis sebuah pesantren.
Kemandirian dapat menghilangkan
sejuta rintangan dalam kehidupan seseorang. Orang yang mandiri akan selalu ada
cara untuk menaklukkan sesuatu. Percayalah ! santri itu orang yang paling
banyak ide. Lihat saja ketika mereka terlambat ke mesjid, akan ada seribu
alasan yang mereka utarakan kepada Al Akh ataupun ustadznya dalam waktu yang
singkat. Hahaha.......
4.
Jiwa Ukhuwah Islamiyah
Nilai ukhuwah islamiyah ini
sangat penting dalam kehidupan sosial. Kamu sering mendengarkan ? “Bersatu kita
teguh bercerai kita runtuh” ya, kebersamaan adalah kekuatan dalam mencapai
kesuksesan. Lihat saja lomba panjat pinang 17 Agustus, kalau mereka tidak
bekerjasama maka mustahil salah satu dari mereka bisa sampai kepuncak. Pun begitu
dengan kehidupan di pesantren, jiwa persaudaraan mereka inilah yang
mengantarkan mereka pada sebuah keberhasilan.
Para santri datang dari daerah
yang berbedan dengan kulit yang berbeda, tapi disatukan dengan lauk yang sama
ketika mereka makan. Jiwa persaudaraan santri ini sangat kuat jika dibandingkan
dengan anak sekolah non pesantren. Kenapa? Karena para santri selama 24 jam
mereka selalu bersama. Mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Bahkan ketika
mereka melanggar pun kadang-kadang mereka sering bersama-sama. Hahaha... di
hukum pun juga sama. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Kecuali hukuman
untuk juru kunci yang mengajak melanggar, itu pastinya sedikit berbeda dengan
yang lain, kerena ini kepalanya. Haha
Nilai ukhuwah ini akan selalu
tertanam pada diri mereka, bahkan hingga alumni pun mereka akan selalu bersama,
hanya jarak dan waktu yang memisahkan mereka. Luar biasa ! indahnya kehidupan
di pesantren
5.
Jiwa Kebebasan
Di pesantren kan ada disiplin di
segala sudut kehidupan santri, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi ada
disiplin, jadi dimana juga kebebasan itu?
Kebebebasan ada pada setia diri
santri, kebebebasan berpikir, kebebasan berbuat, dan kebebasa berkarya. Nah,
tentunya kebebasan tersebut bukan kebebasan liar yang melanggar peraturan ataupun
syariat islam. Haha..
Para santri diberi kebebasan
untuk memilih jalan hidup nantinya di kala mereka terjun masyarakat dengan
turut serta membawa nila-nilai pendidikan di pesantren. Mereka bebas menata
kehidupan dengan berbekal jiwa yang besar dan optimisme yang mereka dapatkan
selama di pesantren. Dan tentunya hal tersebut tidak melenceng dari nilai-nilai
pendidikan pesantren tadi. Mereka bebas terjun kedunia apapun yang mereka sukai
dengan memperhatikan tetap dalam koridor yang wajar dengan berbagai macam
inovasi yang dikembangkan oleh mereka.
Maka tak heran jika melihat
alumni pesantren berada dimana-mana, ada yang terjun ke dunia politik, kampus,
jadi ulama, pengusaha, guru, polisi, tentara dan sebagainya. Tentunya apapun
profesi yang mereka tekuni tetap menjadi
alumni pesantren. Jadi dosen, dosen yang islami, jadi politikus, politikus yang
islam yang memegang teguh nilai-nilai kepesantrenan.
Maka 5 pola kehidupan tersebut
lah yang akan mengantarkan seorang santri untuk menjadi orang besar suatu saat
nanti. 5 panca jiwa tersebut juga menjadikan sebuah lembaga menjadi pesantren
jika staf atau pengurus didalamnya mengamalkan 5 pola kehidupan pesantren
tersebu. Tentunya dengan penuh harapan, apa yang santri dapatkan di pesantren,
agar dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka nantinya. Karena
ilmu itu untuk diamalkan.
Dengan jiwa ini juga pesantren
mendidik para santri dan mebentuk karakter mereka sehingga melahirkan generasi
yang akan menggetarkan dunia. Haha..semoga !
Melalui pesantren kita warnai
dunia ! yakk ....
Bagikan
Inilah 5 Pola Kehidupan di Pesantren yang Mesti Kamu Ketahui!
4/
5
Oleh
Kasel


